Minggu, 18 Maret 2012

METODE TAFSIR TAHLILI


METODE TAFSIR TAHLILI  DAN IJMALI

A.    Pendahuluan
Alquran adalah sumber ajaran Islam. Dan laksana samudera yang keajaiban dan keunikannya tidak pernah sirna di telan masa, sehingga lahirlah bermacam-macam tafisr dengan metode yang beraneka ragam. Para ulama telah menulis dan mempersembahkan karya-karya mereka dibidang tafsir ini, dan menjelaskan metode-metode yang digunakan oleh masing-masing tokoh penafsir, metode-metode yang dimaksud adalah metode tahliliy, ijmaliy, muqaran, dan maudhu’iy.
Banyak cara pendekatan dan corak tafsir yang mengandalkan nalar, sehingga akan sangat luas pembahasan apabila kita bermaksud menelusurinya satu demi satu. Untuk itu, agaknya akan lebih mudah dan efesien, pembahasan didalam makalah hanya mengambil dua metode tafsir saja yaitu tahliliy dan ijmaliy.
Pentingnya metode tafsir tahlili dan ijmali dalam menafsirkan ayat-ayat Alquran adalah untuk membantu dan memudahkan bagi orang yang ingin mempelajari dan memahami ayat AlQuran itu sendiri. dan mengingat dua metode tersebut telah menjadi pilihan banyak mufassir (ulama tafsir) dalam karyanya.
Dalam pembahasan makalah ini, pemakalah akan mencoba menjelaskan dan menguraikan mula dari :Sekilas sejarah perkembangan tafsir, Pengertian Metode Tahlili dan Ijmali, Ciri-ciri kedua metode ini, langkah-langkah yang ditempuh mufassir dalam menafsirkan dengan Metode Tahlili dan Ijmali ini, Kelebihan dan Kekurangan Metode Tahlili dan Ijmali, serta contoh dari masing-masing metode ini.   

B.     Sejarah Perkembangan Tafsir
Dari perkembangan tafsir metode yang pertama lahir dengan mengambil bentuk al-ma’tsur dan diikuti oleh bentuk al-ra’yi adalah metode ijmaliy .Kemudian metode ini berkembang terus sehingga melahirkan metode tahliliy, ini ditandai dengan dikarangnya kitab-kitab tafsir yang menguraikan uraian yang cukup luas dan mendalam tentang pemahaman suatu ayat seperti al-Thabari dalam bentuk tafsir al-matsur, tafsir ar-Razi dalam bentuk ra’yi dan lain-lain. Sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman, maka ulama tafsir berusaha menafsirkan alquran lebih spesifik lagi dalam bidang-bidang tertentu[1] .

C.    Metode Tahliliy
a.       Pengertian Metode Tahliliy
Kata tahliliy adalah bahasa arab yang berasal hallala-yuhallilu-tahlilan  yang berarti to analize atau detailing, ana lyzing, menganalisa atau mengurai, dan kata tahlili berarti analytic atau analytical.[2]
Metode tahliliy, yang dinamai oleh Baqir Al-Shadr sebagai metode tajzi’iy,adalah satu metode tafsir yang “Mufassirnya berusaha menjelaskan kandungan ayat-ayat Alquran dari berbagai seginya dengan memperhatikan runtunan ayat-ayat Alquran sebagaimana tercantum di dalam mushaf.[3]
Al-farmawi juga mendefenisikan tafsir tahlili dengan suatu metode tafsir yang bermaksud menjelaskan kandungan  ayat-ayat AlQur’an dari seluruh aspeknya.[4] Dan menerangkan makna-makna yang tercakup didalamnya sesuai dengan keahlian dan kecenderungan mufassir yang menafsirkan ayat-ayat tersebut. Dan  beliau juga  menguraikan bahwa bahwa penjelasan makna tersebut bisa tentang makna kata, penjelasan umumnya, susunan kalimatnya, asbab al-nuzulnya.
       Metode ini terkadang menyertakan perkembangan kebudayaan generasi  Nabi, Sahabat maupun Tabi’in, terkadang pula diisi dengan uraian-uraian kebahasaan dan meteri-materi khusus lainnya yang kesemuanya ditujukan untuk memahami al Quran yang mulia ini.[5]
Sedangkan M. Quraish Shihab berpendapat bahwa tafsir tahlili merupakan suatu bentuk tafsir dimana mufassirnya berusaha menjelaskan kandungan ayat-ayat Alquran dari berbagai seginya dengan memperhatikan runtutan ayat-ayat Alquran sebagaimana tercantum dalam mushaf.[6]
  Para  penafsir tahliliy ini ada yang terlalu bertele-tele dengan uraian panjang lebar dan sebaliknya, ada pula yeng terlalu sederhana dan ringkas. Selanjutnya, mereka juga mempunyai kecenderungan dan arah penafsiran yang beraneka ragam, ditinjau dari kecenderungan para penafsir, para ulama membagi corak metode tahliliy kepada tujuh bentuk[7], yaitu :
1.      al- Tafsir bi al-Ma’tsur
2.      al- Tafsir bi al-Ra’yi
3.      al- Tafsir al-Shufi
4.      al- Tafsir al-fiqhi
5.      al- Tafsir al-falsafi
6.      al- Tafsir al-‘Ilmi dan
7.      al- Tafsir al-Adaby

b.      Ciri-ciri Metode Tafsir Tahlili.
Metode Tafsir tahlili mamiliki ciri khusus yang membedakannya dari metode tafsir lainnnya, cirri-cari tersebut adalah :
1.      Mufassir menafsirkan ayat per ayat dan surat demi surat secara barurutan sesuai dengan mushaf.
2.      Mufassir menjelaskan makna yang terkandung didalam ayat-ayat Alquran secara komprehensif dan menyeluruh, baik dari segi I’rab,Munasabah ayat atau surah, asbab nuzul-nya dan dari segi lain.
3.      Dalam penafsirannta seorang mufassir tahlili manafsirkan ayat-ayat Alquran dengan menggunakan pendekatan bi al-ma’tsur maupun bi al-ra’yi.[8]
4.      Bahasa yang digunakan metode tahlili tidak sesederhana yang dipakai metode tafsir ijmali.

c.         Langkah-langkah Metode Tafsir Tahlili.
Secara umum langkah-langkah yang ditempuh oleh mufassir dengan metode tahlili ini adalah sebagai berikut :
1.      Memberikan keterangan tentang status ayat atau surat yang sedang ditafsirkan dari segi makkiyah dan madaniyah
2.      Menjelaskan munasabah ayat atau surat.
3.      Menjelaskan asbab al-nuzul ayat apabila terdapat riwayat mengenainya.
4.      Menjelaskan makna al-mufradat dari masing-masing ayat, serta unsur-unsur bahasa arab lainnya, seperti dari segi I’rab dan balaghah nya, fasahah, bayan, dan I’jaznya.
5.      Menguraikan kandungan ayat secara umum dan maksudnya.
6.      Merumuskan dan menggali hukum-hukum yang terkandung di dalam ayat-ayat tersebut.[9]

d.                Kelebihan dan Kekurangan Metode Tafsir Tahlili
Tafsir tahlili sebagai salah satu metode tafsir yang banyak digunakan oleh para mufassir, tidak luput dari adanya kelebihan dan kekurangan atau ketebatasan, sebagaimana manusia, sang penafsir. Diantara kelebiahan dan kekurangan metode tahlili ini adalah :
1.                Kelebihan Metode Tafsir Tahlili
a.         Metode tahlili adalah merupakan metode tertua dalam sejarah Alquran, karena metode ini telah digunakan sejak masa Nabi Muhammad SAW.
b.         Metode ini adalah metode yang paling banyak digunakan oleh para mufassir.
c.         Metode ini memiliki corak (laun ) dan orientasi ( ittijah ) yang paling banyak dibandingka metode lain.
d.        Melalui metode  ini seorang mufassir memungkinkan untuk memberikan ulasan secara panjang lebar ( itnhab), atau secara ringkas dan pendek saja ( ijaz).[10]
e.         Metode tahlili pembahsann dan ruang lingkupnya yang sangat luas. Hal ini dapat berbentuk riwayat (ma’sur ) dan juga dapat berbentuk rasio ( ra’yu )[11]
2.      Kekurangan Metode Tafsir Tahlili
a.       Metode ini dijadikan para penafsir tidak jarang hanya berusaha menemukan dalil atau pembenaran pendapatnya dengan ayat-ayat Alquran.
b.      Metode ini kurang mampu memberi jawaban tuntas terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat, karena pembahsannya sering tidak tuntas, terutama masalah kontemporer seperti keadilan, kemanusiaan, sekaligus tidak banyak memberi pagar-pagar metodologi yang dapat mengurangi subjektivitas mufassirnya.
c.       Dapat menghanyutkan seorang mufassir dalam penafsirannya, sehingga keluar dari suasana ayat yang dibahas.
d.       Metode ini sangat subjetif.



e.       Kitab-kitab dan Contoh Tafsir Tahlili
Diantara kitab-kitab tafsir yang menggunakan metode ini adalah:
· Tafsir al-Qur’an al-‘azhim karya Ibn Katsir.
· Tafsir al-Munir karya Syaikh Nawawy al-Bantany.
· Ada yang ditulis dengan sangat panjang, seperti kitab tafsir karya al-Lusi, Fakhr al-Din al-Razi, dan Ibn Jarir al-Thabari;
· Ada yang sedang, seperti kitab Tafsir Imam al-Baidhawi dan al-Naisaburi;
· dan ada pula yang ditulis dengan ringkas, tetapi jelas dan padat, seperti kitab Tafsir al-Jalalayn karya Jalal al-Din Suyuthi dan Jalal al-Din al- Mahalli dan kitab Tafsir yang ditulis Muhammad Farid Wajdi.
Sedangkan contoh-contoh metode Tafsir tahlili anatara lain :
1.      Tafsir Al-fakhruddin al-Razy yang terdiri dari  tafsir al- Kabir (Mafatih al-Ghaib) yang terdiri dari 30 jilid  dan Tafsir al-Saghir (Asrar al-Tanzil wa Anwar al-Ta’wil).
2.      Tafsir Imam al-Zamakhsari (Al-Ksyasaf ‘an Haqaiq al-Tanzil wa ‘uyun al-Aqawil fi Wujud al-Ta’wil).
Contoh ayat tasir Al-Kasyasyaf QS. 75, Al-Qiyamah : 22-23 dan QS. 6, Al-An’am : 103. Kedua ayat ini dianggapnya muhkam karena mustahil Allah itu dapat dilihat oleh penglihatan manusia. [12]




D.    Metode Tafsir Ijmali
a.    Pengertian Metode Tafsir ijmali
Kata ijmali adalah bentuk masdar dari aj-mala. Menurut bahasa ia berarti keringkasan atau kesimpulan. Ia berderivasi dari kata jamala dengan menambahkan ya’ nisbah di akhir lafalnya. Penambahan ini memberikan penekanan makna bahwa seseuatu itu dilakukan secara global[13].
Dalam kaitan ini ‘Abd as-Sattar fathullah Sa’id di dalam al-Madkhal Ila Tafsir al-Maudu’I menjeleskan bahwa yang dimaksud dengan metode ijmali adalah : “ Tafsir yang dijelaskan seorang mufassir secara ringkasa makna ayat atau makna ayat-ayat yang ditafsirkannya. Ia juga menyatakan maksud ayat tersebut dan mensyrahkan kehalusan lafal-lafal ayat, sebab-sebab turunnya sehingga nyatalah makna umum ayat tersebut tanpa masuk kedalam uraian yang banyak”.[14]
Di dalam sistematika uraiannya, penafsir akan membahas ayat demi ayat sesuai dengan susunan yang ada di dalam mushaf, kemudian mengemukakan makna global yang dimaksud oleh ayat tersebut. Makna yang diungkapkan biasanya diletakkan di dalam rangkaian ayat-ayat atau menurut pola-pola yang diakui oleh jumhur Ulama, dan mudah dipahami oleh semua orang.
Di dalam tafsirnya, seorang penafsir menggunakan lafazh bahasa yang mirip bahkan sama dengan lafazh alquran, sehingga pembaca akan merasakan bahwa uraiannya tersebut tidak jauh dari gaya bahasa alquran itu sendiri, tidak jauh dari lafazh-lafazhnya. Sehingga, disatu sisi lain, betul-betul mempunyai hubungan erat susunan bahasa alquran. Cara penafsiran dengan gaya bahasa yang demikian sangat jelas bagi pendengar dan mudah dipahami.[15]
Berdasarkan definisi diatas dapat dipahami bahwa yang dikehendaki dengan metode tafsir ijmali adalah penafsiran Alquran dengan cara ringkas, tidak berbelit-belit dan tidak menggunakan redaksi yang sukar.
Guna memudahkan mengenali metode tafsir ijmali disini dikemukakan beberapa keraktristiknya berdasarkan definisi yang telah dijelaskan diatas, yaitu :
a.    Metode tafsir ijmali ditulis dengan ringkas, dan ini metode teringkas dalam menafsirka ayat Alquran jika disbanding dengan metode lainnya. Oleh karena itu kitab-kitab tafsir yang menggunakan metode ijamali ini tidak begitu tebal sebagaimana tafsir yang lainnya.
b.    Metode tafsir ijmali menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Dalam penafsiran lafal ayat hanya mengemukakan padanan kata dari firman Allah.
c.    Dalam menafsirkan ayat Alquran, seorang mufassir yang menggunaka metode ijmali, menafsirkan ayat degan mengikuti urutan ayat yang ada di dalam mushaf Alquran. Yakni dimulai daru surah al-fatihah dan diakhiri dengan surah an-Naas.[16]

b.    Kelebihan dan Kekurangan Metode Tafsir Ijmali
Sama seperti metode tafsir tahlili, metode tafsir ijmali ini juga memiliki kelebihan atau keistimewaan maupun kekurangan dalam menafsirkan Alquran. Dan diantara kelabian dan kekuranganya adalah :
1.         Kelebihan atau keistimewaan metode tafsir ijmali
a.         Metode ini lebih mudah dipahami oleh pembaca. Kosa kata yang digunakan tidak sesukar metode tafsir yang lain. Dan sesuai bagi seorang pemula memahami tafsir Alquran.

1 komentar:

  1. itu ada nomor buat footnote, tpi kok footnoteny ga ada ya?
    trus juga tolong tuliskan daftar pustakanya gan, biar lebih membantu.. syukron

    BalasHapus